Ubuntu Pindah ke Rust: Akhir Era C++ dan Revolusi Keamanan di Dunia Linux
Dalam dunia sistem operasi, kestabilan dan keamanan adalah dua pilar yang tidak bisa ditawar. Selama puluhan tahun, keluarga bahasa C dan C++ telah menjadi “raja” di balik layar kernel Linux serta distro populer seperti Ubuntu. Namun, angin perubahan sedang berembus kencang. Canonical, perusahaan di balik Ubuntu, secara bertahap mulai mengintegrasikan Rust ke dalam komponen inti sistem operasi mereka.
Langkah ini bukan sekadar tren gaya-gayaan para programmer muda. Ini adalah respons strategis terhadap salah satu masalah paling klasik dan mematikan dalam sejarah komputer: Memory Safety (Keamanan Memori). Artikel ini akan membedah mengapa transisi dari C++ ke Rust adalah sebuah keniscayaan teknis dan bagaimana hal ini akan mengubah wajah Ubuntu di masa depan.
“Dosa” Klasik C++: Bahaya Manajemen Memori Manual
Untuk memahami mengapa Ubuntu beralih ke Rust, kita harus mengerti “penyakit” yang menghantui C++. Dalam bahasa C atau C++, programmer memiliki kendali penuh atas memori komputer. Mereka bisa memesan memori, menggunakannya, dan harus ingat untuk melepaskannya kembali.
Masalahnya, manusia tidak sempurna. Lupa melepaskan memori menyebabkan memory leak (kebocoran memori). Namun, yang lebih berbahaya adalah kesalahan akses memori, seperti buffer overflow atau use-after-free.
Analogi: Juggling Granat vs Harness Pengaman
Bayangkan menulis kode dalam C++ seperti melakukan juggling dengan granat yang pinnya sudah dicabut. Jika Anda sangat ahli dan tidak pernah melakukan kesalahan satu milidetik pun, semuanya akan berjalan sangat cepat dan efisien. Namun, satu kali saja konsentrasi Anda buyar, granat itu akan meledak dan menghancurkan seluruh sistem.
Di sisi lain, Rust hadir dengan sistem Ownership dan Borrow Checker. Ini seperti Anda tetap melakukan juggling, tetapi tangan Anda terhubung dengan harness pengaman otomatis. Jika sistem mendeteksi gerakan tangan yang salah yang bisa menjatuhkan granat, sistem akan menarik tangan Anda atau mengunci pergerakan sebelum granat itu jatuh. Rust tidak membiarkan kesalahan memori terjadi sejak tahap kompilasi (sebelum program dijalankan).
Mengapa Ubuntu (Canonical) Memilih Rust Sekarang?
Ubuntu adalah distro Linux paling populer di dunia, baik untuk desktop maupun server enterprise. Keamanan adalah komitmen utama mereka kepada jutaan pengguna. Berikut adalah alasan teknis mengapa Rust menjadi pilihan utama:
1. Mandat Keamanan Global
Lembaga keamanan siber seperti CISA (Cybersecurity and Infrastructure Security Agency) di Amerika Serikat telah mengeluarkan panduan resmi yang mendesak para pengembang untuk beralih ke bahasa yang memory-safe. Statistik menunjukkan bahwa sekitar 70% kerentanan keamanan di proyek besar (termasuk Windows dan Chrome) disebabkan oleh masalah memori. Ubuntu ingin berada di sisi sejarah yang benar dengan meminimalkan celah zero-day secara proaktif.
2. Modernisasi Infrastruktur
Canonical sedang membangun banyak tool sistem baru, seperti installer Ubuntu yang baru (Subiquity) dan sistem manajemen paket Snap. Dengan menggunakan Rust, tim pengembang bisa bekerja lebih cepat tanpa harus dihantui oleh ketakutan akan bugs memori yang sangat sulit dicari (debug). Rust memberikan kecepatan eksekusi yang hampir setara dengan C++, namun dengan keamanan bahasa tingkat tinggi seperti Python.
3. Ekosistem Kernel Linux
Linus Torvalds, pencipta Linux, secara resmi telah menerima Rust sebagai bahasa kedua di kernel Linux (setelah C). Sebagai distro yang sangat bergantung pada kernel, Ubuntu harus memastikan bahwa tool-tool di atas kernel juga mampu mengimbangi standar keamanan baru ini.
—
Tips untuk Developer: Transisi ke bahasa yang aman membutuhkan perangkat yang nyaman untuk sesi coding panjang. Cek rekomendasi Keyboard Mechanical Wireless terbaik di Shopee untuk meningkatkan produktivitas Anda saat mempelajari Rust.
—
Dampak Langsung bagi Pengguna: Lebih Cepat, Lebih Stabil?
Lalu, apa untungnya bagi kita sebagai pengguna Ubuntu biasa? Apakah sistem akan terasa lebih ringan?
Secara teori, Rust memungkinkan aplikasi berjalan lebih stabil karena potensi crash akibat salah akses memori berkurang drastis. Selain itu, seiring dengan isu RAMageddon (kenaikan harga RAM global 2026), efisiensi penggunaan memori menjadi krusial. Rust memungkinkan kontrol memori yang ketat seperti C++, namun tanpa risiko kebocoran, sehingga aplikasi sistem Ubuntu akan lebih hemat sumber daya dibandingkan jika ditulis dengan bahasa yang menggunakan Garbage Collector seperti Java atau Go.
Performa Multicore yang Lebih Baik
Dunia saat ini sudah dipenuhi oleh prosesor multi-core. Menulis kode yang berjalan secara paralel (multithreading) sangat sulit dan berisiko di C++ karena sering terjadi race conditions. Rust dirancang dengan filosofi “Fearless Concurrency”. Hasilnya? Komponen Ubuntu di masa depan akan lebih optimal dalam memanfaatkan kekuatan penuh prosesor modern tanpa risiko sistem menjadi tidak stabil.
Tantangan yang Dihadapi: Tidak Bisa Berubah dalam Semalam
Meskipun Rust tampak seperti solusi ajaib, transisi ini tetaplah tantangan besar. Ubuntu memiliki jutaan baris kode warisan (legacy code) yang ditulis dalam C dan C++.
1. Kurva Pembelajaran: Rust dikenal memiliki kurva pembelajaran yang cukup curam. Konsep Ownership seringkali membuat programmer pusing di awal. Canonical harus menginvestasikan waktu untuk melatih tim mereka.
2. Interoperabilitas: Menggabungkan kode Rust dengan kode C lama membutuhkan glue code (FFI – Foreign Function Interface) yang harus dikelola dengan hati-hati.
3. Waktu Kompilasi: Rust cenderung memiliki waktu kompilasi yang lebih lama dibandingkan C, yang bisa sedikit memperlambat siklus Development-to-Deployment.
Kesimpulan: Senjakala C++ dan Fajar Baru Rust
Beralihnya Ubuntu ke Rust adalah tanda bahwa industri teknologi sudah mencapai titik jenuh dengan masalah keamanan yang berulang. Kita sedang menyaksikan pergantian takhta. C++ mungkin tidak akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat karena jumlah kodenya yang masif, namun untuk pengembangan sistem baru yang kritis, Rust adalah standar baru.
Bagi developer di Indonesia, ini adalah sinyal kuat untuk mulai mempelajari Rust. Investasi waktu untuk memahami bahasa ini sekarang akan sangat berharga karena di masa depan, bukan hanya Linux, namun juga infrastruktur cloud, sistem IoT, hingga mesin AI (seperti yang dilakukan Anthropic) akan dibangun di atas fondasi Rust.
Ubuntu telah memulai revolusinya. Kini saatnya kita beradaptasi atau tertinggal oleh kemajuan standar keamanan global.
—
Penulis: Tim Redaksi TeknologiNow
Editor: Onix
Draf ini disusun berdasarkan tren terbaru di dunia Open Source dan bertujuan memberikan wawasan strategis bagi pengembang teknologi di Indonesia.
—
Referensi:
- Canonical Blog: The Future of Rust in Ubuntu
- CISA Fact Sheet: Memory Safety in Programming Languages
- Linus Torvalds: Rust in the Linux Kernel
- Ahrefs Audit 2026: Strategi Pembersihan Link 404 pada Portal Teknologi.
Discover more from teknologi now
Subscribe to get the latest posts sent to your email.