Selamat Tinggal Bottleneck! Mengapa TypeScript 6 Memilih ‘Rewrite’ Menggunakan Go?

Bagi komunitas developer web, TypeScript (TS) telah menjadi standar industri yang tak tergantikan. Namun, ada satu “rahasia umum” yang sering membuat frustrasi: semakin besar proyeknya, semakin lambat proses build-nya. Kabar mengejutkan hadir dari rilis TypeScript 6 yang secara radikal memilih untuk melakukan rewrite (tulis ulang) pada bagian inti kompilernya menggunakan bahasa Go.

Langkah ini memicu perdebatan: “Bukannya TypeScript itu berbasis JavaScript? Kenapa malah pindah ke Go?” Mari kita bedah agar tidak salah paham.

Meluruskan Miskonsepsi: Apa yang Sebenarnya Diubah?

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu meluruskan satu hal penting: Bahasa TypeScript-nya sendiri tidak berubah. Anda tetap akan menulis kode menggunakan sintaks TypeScript yang sama seperti biasanya.

Yang diubah atau ditulis ulang oleh tim pengembang adalah Kompiler-nya (The Compiler). Untuk memahami bedanya, mari kita gunakan analogi sederhana yang mudah dimengerti.

Analogi Naskah Film dan Mesin Cetak

Bayangkan Anda adalah seorang penulis naskah film:
* TypeScript adalah naskah yang Anda tulis (Bahasa/Syntax).
* Kompiler adalah mesin cetak raksasa yang tugasnya mengubah naskah tersebut menjadi buku film yang siap didistribusikan (Output JavaScript).

Selama bertahun-tahun, TypeScript menggunakan “mesin cetak” yang terbuat dari bahan yang sama dengan naskahnya, yaitu JavaScript. Masalahnya, meskipun JavaScript sangat fleksibel, ia bukanlah material yang kuat untuk membuat mesin cetak raksasa yang harus bekerja sangat cepat. Mesin ini berat, mudah panas, dan sering kali lambat saat harus mencetak ribuan halaman naskah sekaligus.

Di TypeScript 6, tim pengembang memutuskan untuk membuang mesin cetak lama tersebut dan membangun mesin baru dari baja yang jauh lebih kuat, yaitu bahasa Go. Hasilnya? Mesin cetak ini bisa bekerja 10x hingga 100x lebih cepat, meskipun naskah yang Anda masukkan tetap sama.

Mengapa Go yang Menjadi Pilihan?

Ada alasan teknis yang sangat kuat mengapa bahasa Go dipilih untuk menggantikan mesin JavaScript yang lama:

1. Kecepatan Native (Langsung ke Hardware)

JavaScript adalah bahasa yang butuh “penerjemah” (Runtime) agar bisa dimengerti oleh komputer. Sedangkan Go adalah bahasa yang langsung berubah menjadi instruksi mesin (native). Ini memberikan lompatan performa yang masif saat harus memproses ribuan file kode TS dalam waktu singkat.

2. Ahli dalam “Multi-Tasking” (Concurreny)

Go dirancang oleh Google untuk menangani banyak tugas secara bersamaan dengan sangat efisien. Dalam dunia coding, ini disebut paralelisme. Kompiler baru berbasis Go bisa mengecek kesalahan kode di ratusan file secara serentak, bukan satu-per-satu seperti kompiler lama.

3. Hemat RAM

JavaScript sering kali “boros” ingatan saat memproses data besar karena sistem pembersihan memorinya (garbage collection) yang cukup berat. Go jauh lebih efisien dalam urusan ini, sehingga developer dengan laptop spesifikasi menengah tidak akan lagi merasakan komputernya “ngelag” saat sedang melakukan build proyek besar.


Upgrade Workflow Coding Anda:
Proses kompilasi yang lebih cepat akan sia-sia jika perangkat input Anda tidak memberikan kenyamanan maksimal. Cek pilihan Keyboard Mechanical Wireless terbaik di Shopee untuk pengalaman mengetik kode yang lebih presisi dan taktis.

Apa Dampaknya bagi Developer di Indonesia?

Langkah TypeScript 6 ini adalah angin segar bagi ekosistem pengembang di Indonesia, mulai dari freelancer hingga tim dev di startup besar.

Waktu Tunggu Berkurang: Tidak ada lagi waktu “ngopi” terlalu lama hanya untuk menunggu proses compile* selesai. Loop pengembangan (tulis kode – cek hasil) menjadi hampir instan.
Efisiensi Biaya CI/CD: Di tingkat perusahaan, proses build* yang lebih cepat di server cloud (seperti AWS atau Google Cloud) berarti biaya langganan yang lebih murah karena penggunaan CPU yang lebih singkat.
Masa Depan Web yang Lebih Stabil: Dengan penetrasi Go di dalam tooling* web (seperti yang dilakukan oleh proyek Bun dan Esbuild sebelumnya), ekosistem JavaScript justru menjadi semakin kuat berkat bantuan bahasa “tetangga” yang lebih cepat.

Kesimpulan

Keputusan TypeScript 6 untuk menggunakan Go adalah pengakuan jujur bahwa untuk mencapai performa tingkat tinggi, kita terkadang harus memilih alat yang tepat untuk tugas tertentu—meskipun alat itu berbeda bahasa.

Ini bukan “pengkhianatan” terhadap JavaScript, melainkan sebuah evolusi cerdas. TypeScript tetaplah bahasa favorit kita untuk menulis kode web, namun sekarang ia memiliki “jantung” baru dari baja (Go) yang memastikan kreativitas kita tidak lagi terhambat oleh proses teknis yang lambat.

Penulis: Tim Redaksi TeknologiNow
Editor: Onix
Draf ini disusun secara profesional untuk memudahkan pemahaman transisi teknologi bagi audiens TeknologiNow.


Discover more from teknologi now

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from teknologi now

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading